Posted by: abdullohmuzaki | July 8, 2010

HARVARD (Indonesia : Menarik Investasi Luar Negeri)

Sebelum masuk pada pembahasan ekonomi Indonesia di tahun 1998-2000an, kita simak dulu pandangan dari Harvard Study yang telah ditranslatekan ke dalam bahasa Indonesia. Tapi sebelumnya saya minta maaf karena data-data yang lengkap tidak bisa saya posting karena keterbatasan sarana dan prasarana serta data yang saya dapatkan dalam bentuk hardcopy, jadi sekali lagi saya mohon maaf.
sebelum masuk ke zaman kemerdekaan inilah sejarah pereoknomian Indonesia di zaman kerajaan, Indonesia yang sekarang ada merupakan gabungan wilayah peninggalan peradaban Hindu-Budha yang memiliki sejarah panjang. Sekitar tahun 1350, Patih Gajahmada, merupakan tokoh yang berhasil mempersatukan wilayah nusantara dan menggabungkannya dalam satu kesatuan kekuasaan. Zaman tersebut disebut sebagai “Zaman Keemasan”(Golden Age). Pada akhir abad ke-12, para pedagang dari Arab mulai berdatangan, memulai rute bisnisnya dari Aceh dan terus ke wilayah-wilayah lain di nusantara. Bersamaan dengan itu, Islam menjadi kepercayaan dominan yang tumbuh di masyarakat.
Para pedagang dari Eropa mulai berdatangan pada awal abad ke-16. mereka rata-rata tertarik dengan kekayaan rempah-rempah yang dimiliki bangsa Indonesia, seperti bawang putih dan pala. Seiring berjalannya waktu, para pedagang dari negara Belanda memperoleh posisi yang semakin dominan dengan didirikannya VOC (Kamar dagang Hindia-Belanda) pada tahun 1602. pada tahun 1798, perusahaan ini resmi menjadi kekuasaan kerajaan Belanda dan menjadi perusahaan pengekspor kekayaan alam serta pengimpor barang-barang pabrikan negara-negara industri maju. Gula, kopi, dan rempah-rempah merupakan komoditas ekspor utama. Pada awal abad ke-20, minyak bumi, karet, kopra, dan minyak sawit, menjadi komoditas ekspor lain yang juga terus berkembang. Sejarah pada masa penjajahan Belanda sempat membentuk ketidakpercayaan dunia bisnis terhadap pengembangan usaha dan dana investasi dari luar negeri ke Indonesia.
Setelah kemerdekaan dicapai maka perekonomian bangsa Indonesia berada sepenuhnya di tangan bangsa Indonesia, diawali dengan pemerintahan Soekarno. Sukarno berusaha untuk mengurangi dominasi perusahaan-perusahaan Belanda yang menguasai sampai 25% dari total GDP Indonesia, dan dalam skala yang lebih kecil dominasi perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh masyarakat etnis Cina. Perjanjian Ekonomi dan Perdagangan antara pemerintah Indonesia dan Belanda (FINEC) menyebutkan bahwa adanya jaminan atas hak kepemilikan Belanda terhadap perusahaan-perusahan yang ada, yaitu dapat dinasionalisasi atas dasar-dasar tertentu.  Pada tahun 1951, Pemerintah Indonesia, menggunakan mekanisme perjanjian tersebut, menasionalisasi Java Bank, yang kemudian menjadi Bank Sentral Indonesia. Selain itu, perusahaan-perusahaan lain, seperti perusahaan kereta api juga ikut di nasionalisasi. Pada awal tahun 1959, pemerintah Indonesia telah menasionalisasikan semua perusahaan Belanda yang ada di wilayah teritorial Indonesia.
Rezim SoehartoYang lebih kita soroti adalah saat tahun 1998,

Di tahun 1997, Krisis ekonomi di Asia dimulai dari negara Thailand, disaat Bank Sentral Thailand harus melakukan mekanisme floating pada mata uangnya, dikarenakan tekanan kuat pasar. Negara-negara di kawasan Asia dalam tahun-tahun tersebut telah merasakan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat dan pemasukan modal luar negeri yang sangat berlimpah. Akan  tetapi, sejak sebelum 1997, para investor telah mulai berhati-hati akan performa dan kemampuan negara-negara tersebut dalam mengatur aliran utang luar negeri mereka. Para pialang saham mulai bertaruh akan terjadinya devaluasi.
Mata uang rupiah diperdagangkan dibawah sistem floating yang telah diatur sebelumnya, akan tetapi semuanya mengalami kegagalan. Mata uang rupiah jatuh tajam dari spekulasi yang ada. 14 Agustus 1997, Rupiah dan BEJ mencatatkan sejarah buruk titik terendah rupiah. Moody meletakkan posisi Indonesia dalam hutang jangka panjangnya pada status berbahaya. GDP bersih menurun hingga lebih dari 13%, lebih rendah dibandingkan negara-negara asia lain.
Bersamaan dengan inflasi yang mencapai angka 70%, terjadi kerusuhan besar di Jakarta yang menewaskan sekitar 500 orang. Januari 1998, rupiah jatuh bebas menjadikan Rp 17.700 per $1, devaluasi 700% hanya dalam jangka waktu 6 bulan.
5 november 1997, IMF mengabulkan dana pinjaman darurat sebesar $10 milyar. Hal ini justru memperparah krisis dikarenakan secara teknis, perusahaan-perusahaan dinyatakan tidak mampu karena obligasi mereka yang didominasi oleh dollar melampaui aset yang mereka miliki. Kegagalan pemerintah menangani beberapa bank juga semakin menurunkan kepercayaan pasar.
Untuk lebih lengkap silakan download melalui download link di bawah,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: